Jakarta (Humas MAN 9 Jakarta) — Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 9 Jakarta Timur kembali menggelar Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) yang intensif. Kegiatan rutin tahunan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas X tahun ajaran 2025/2026 yang berjumlah 201 orang. LDKS kali ini mengusung tema relevan dengan perkembangan zaman, yaitu “Gali Potensi Kepemimpinan, Berakhlak Mulia, Inovatif, dan Adaptif di Era Digitalisasi.” Pelatihan ini berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 23-25 Oktober 2025, bertempat di Grand Smesco Hills, Bogor, Jawa Barat.
Waka Kesiswaan MAN 9 Jakarta Timur, Sunarya, menekankan pentingnya pelatihan yang memadukan kedisiplinan militer dengan nilai-nilai akhlak mulia. “Di era digital ini, akses informasi sangat cepat, tetapi karakter mudah goyah. Kami tidak hanya ingin mencetak siswa yang cakap berinovasi dan adaptif terhadap teknologi. Lebih dari itu, kami ingin kalian menjadi pemimpin yang berintegritas dan memiliki pondasi akhlak yang kuat,” tegas beliau dalam sambutan pembukaan.
Kolaborasi Tiga Pihak Hasilkan Kepemimpinan Tangguh
Salah satu poin penting dalam LDKS kali ini adalah kolaborasi nyata yang memberikan pengalaman kepemimpinan menyeluruh. Pelatihan ini dipandu secara langsung oleh personel dari Komando Daerah Militer (Kodam) Jaya Jayakarta dan Saka Wirakartika, serta didampingi oleh pembina OSIS, wali kelas, dan guru pendamping. Kolaborasi tersebut bertujuan menanamkan pemahaman bahwa kepemimpinan yang efektif tidak hanya membutuhkan ketegasan dan kedisiplinan, tetapi juga etika yang kuat dan rasa tanggung jawab.
Tiga Hari Penuh Tantangan Fisik dan Mental
Selama tiga hari pelaksanaan, 201 peserta (81 laki-laki dan 120 perempuan) mengikuti serangkaian sesi yang sangat beragam dan menantang. Pada hari pertama, setelah upacara pembukaan, peserta langsung digembleng dengan materi pembentukan sikap dan karakter melalui Pelatihan Baris Berbaris (PBB), wawasan kebangsaan, dan jungle survival. Sesi ini dirancang untuk melatih fokus, kedisiplinan, dan kemampuan bertahan hidup dalam kondisi sulit. Malam harinya, dilaksanakan Perjalanan Jiwa Satria. Melalui tantangan di enam pos, peserta diajak melakukan perjalanan transformatif untuk menguatkan potensi kepemimpinan dan karakter mulia. Mereka diuji untuk menunjukkan sikap disiplin, pantang menyerah, jujur, amanah, dan mampu mengayomi dalam kelompok.
Hari kedua fokus pada strategi dan pembentukan karakter, diawali dengan olahraga pagi yang menyehatkan. Pelatihan dilanjutkan dengan materi inti seperti leadership, navigasi (peta dan kompas), etika, budi pekerti, penanganan kasus bullying (perundungan), hingga pioneering (tali temali). Sesi yang paling menantang adalah simulasi penanggulangan bencana, di mana peserta dilatih naik perahu karet di danau dan berenang menepi, menguji kerjasama tim dan ketangkasan fisik. Malamnya ditutup dengan api unggun dan renungan bersama, sebuah momen refleksi spiritual dan emosional bagi para calon pemimpin.
Hari ketiga fokus pada kerja sama tim, outbound dirancang khusus untuk melatih kerja sama tim, ketangkasan, dan kemampuan pemecahan masalah. Kegiatan diakhiri dengan apel penutupan, menandai berakhirnya pelatihan yang penuh semangat dan kekeluargaan, tetapi tetap menjunjung tinggi ketegasan dan kedisiplinan.
Melalui LDKS ini, para siswa diharapkan mampu menjadi pemimpin yang tidak hanya cakap secara intelektual di era digital, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual. Mereka disiapkan untuk menjadi teladan bagi siswa lainnya, baik di lingkungan akademik maupun non-akademik./zn