Dalam Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), makna “Cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa” adalah fondasi spiritual yang menuntun cara berpikir, bersikap, dan bertindak peserta didik—bahwa belajar bukan sekadar mengejar nilai, tetapi menjadi ibadah dan proses membentuk akhlak.
Maknanya bisa dipahami lewat beberapa poin inti:
- Tauhid sebagai pusat orientasi hidup: peserta didik dibiasakan melihat semua aktivitas (belajar, berteman, berkarya) sebagai bagian dari penghambaan kepada Allah—ada niat, adab, dan tanggung jawab moral.
- Meneladani Rasulullah sebagai model karakter: cinta tidak berhenti di ucapan, tetapi diwujudkan dengan meniru akhlak Nabi: jujur (ṣidq), amanah, santun, adil, disiplin, rendah hati, dan peduli.
- Ibadah dalam bentuk “adab belajar”: misalnya menghormati guru, tidak mencontek, tidak plagiasi, tidak menyakiti teman, menjaga kebersihan, dan konsisten menyelesaikan tugas—karena itu bagian dari nilai keimanan.
- Kompas etika untuk ilmu & teknologi: apa pun mata pelajarannya (termasuk Informatika/AI), cinta kepada Allah dan Rasul menjadi pagar: menggunakan ilmu untuk maslahat, menghindari mudarat (hoaks, perundungan digital, konten merusak, manipulasi, kecurangan akademik).
- Menguatkan motivasi intrinsik: belajar karena “ingin dekat dengan Allah” dan “ingin menjadi pribadi yang bermanfaat”, bukan semata takut hukuman atau sekadar mengejar pujian.