Oleh: Tinia Leyli Shofia Ahmad
Bulan Agustus selalu memiliki tempat istimewa di hati sanubari setiap warga negara Indonesia. Tahun 2026 ini, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI diawali dengan sebuah momentum spiritual yang mendalam melalui kegiatan Zikir dan Doa Kebangsaan di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Ribuan langkah kaki berseragam putih dari berbagai penjuru, termasuk jajaran ASN Kanwil Kemenag DKI Jakarta, bergerak menuju titik yang sama untuk memanjatkan syukur dan harapan bagi negeri yang mengusung visi “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”.
Simbol Persatuan dalam Keberagaman
Zikir dan Doa Kebangsaan tahun ini bukan sekadar rutinitas seremoni. Kehadiran enam pemuka agama yang memimpin doa secara bergantian—mulai dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, hingga Konghucu—menjadi manifestasi nyata dari moderasi beragama. Tokoh-tokoh seperti Dr. H. Husni Ismail (Islam), Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty (Kristen), hingga Xs. Budi S. Tanuwibowo (Konghucu) berdiri bersama di atas panggung, mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa Indonesia tetap kokoh di atas pondasi toleransi dan kerukunan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa kerukunan antarsesama adalah salah satu pilar utama kekuatan bangsa. Kenaikan Indeks Kesalehan Umat Beragama menjadi 84,20 pada tahun 2025 menjadi bukti empiris bahwa nilai-nilai spiritualitas semakin mengakar kuat dalam kehidupan berbangsa. Hal ini relevan dengan suasana di Monas, di mana perbedaan keyakinan tidak menghalangi jemaah untuk saling menghormati dalam kekhusyukan doa yang sama: demi kedamaian dan kemajuan Indonesia.
Lantunan Shalawat dan Munajat Spiritual
Suasana malam di jantung ibu kota terasa bergemuruh namun menyejukkan saat Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf memimpin Shalawat Kebangsaan. Ribuan suara jemaah melantunkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, seperti selawat “Ya Hanana” yang bermakna keberuntungan dan rasa syukur atas anugerah Ilahi. Momentum ini menjadi ruang refleksi bagi setiap individu untuk mengenang perjuangan para pendiri bangsa yang merebut kemerdekaan tidak hanya dengan peluh dan darah, tetapi juga dengan kekuatan doa yang tak putus-putus.
Sebelum puncak acara, pembacaan Khotmil Qur’an memberikan nuansa kesucian tersendiri. Partisipasi qari internasional, Muhammad Zian Fahrezi, yang membacakan surat Ar-Rahman, mengajak setiap hadirin untuk merenungi nikmat Tuhan mana lagi yang hendak didustakan di atas tanah merdeka ini. Hal ini sejalan dengan teks doa yang dipanjatkan oleh Imam Masjid Istiqlal, yang memohon agar kemajuan dan kesejahteraan bangsa terus tumbuh sebagai wujud syukur atas suluh kemerdekaan.
Peran Strategis Kemenag DKI Jakarta
Bagi keluarga besar Kanwil Kemenag DKI Jakarta, keterlibatan dalam acara ini adalah bentuk komitmen nyata dalam menjaga harmoni ibu kota. Kabid Pendidikan Madrasah, Viola Cempaka, menegaskan bahwa kehadiran hampir 100.000 peserta dari lingkungan Kemenag DKI merupakan wujud dukungan penuh terhadap agenda nasional. Guru, penyuluh, hingga kepala madrasah hadir sebagai teladan dalam merajut ukhuwah dan memperkuat jati diri bangsa yang religius.
Harapannya, semangat yang terpancar dari lapangan Monas tidak berhenti saat acara usai. Nilai-nilai kesalehan, gotong royong, dan toleransi yang digaungkan harus mampu diterjemahkan ke dalam etos kerja harian di setiap unit layanan keagamaan. Sebagaimana doa yang dipanjatkan, seluruh elemen bangsa diharapkan dapat terus bersinergi dan berkolaborasi dalam membangun ibu pertiwi agar cita-cita Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur benar-benar terwujud di masa depan.
Zikir dan Doa Kebangsaan 1 Agustus 2026 telah menjadi penanda bahwa perjalanan menuju usia ke-81 Republik Indonesia dimulai dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dari Monas, getaran doa ini diharapkan menyebar ke seluruh pelosok negeri, membawa optimisme bahwa Indonesia Maju bukanlah sekadar impian, melainkan takdir yang sedang kita perjuangkan bersama melalui doa dan pengabdian.