NASKAH KHUTBAH JUM’AT

Tema: “KALAU SUDAH TIADA BARU TERASA”
Oleh: Kamil,S.Pd.I 
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِالِلّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا¸ مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ الِلّٰهِ¸ أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ¸ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيمْ.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Ketakwaan itulah bekal terbaik menuju kehidupan yang kekal.
Hari ini, izinkan khatib mengajak kita membuka kembali sebuah pintu yang mungkin telah lama tertutup oleh kesibukan. Pintu itu bernama “bakti kepada orang tua”.
Jamaah yang dimuliakan Allah…
Ada kalimat yang sering terdengar sederhana, tetapi menyimpan luka yang sangat dalam.
“Kalau sudah tiada, baru terasa.”
Kalimat ini bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah jeritan penyesalan yang keluar dari hati seorang anak ketika ayah atau ibunya telah dipanggil Allah.
Ketika masih ada, kita sering berkata, “Nanti saja aku pulang.”
“Nanti saja aku menelepon.”
“Nanti saja aku meminta maaf.”
“Nanti saja aku menemani mereka.”
Namun ternyata… tidak semua “nanti” masih diberi kesempatan oleh Allah.
Betapa banyak orang yang pagi itu berangkat bekerja, tanpa sempat mencium tangan ibunya.
Betapa banyak anak yang menolak panggilan ayahnya karena merasa sibuk.
Lalu sore harinya datang kabar yang membuat tubuhnya lemas.
“Ayah telah tiada…”
Atau…
“Ibumu baru saja mengembuskan napas terakhir.”
Saat itu dunia seakan berhenti.
Tangisan pecah.
Penyesalan datang.
Tetapi penyesalan selalu terlambat.
Tidak ada lagi tangan yang bisa dicium.
Tidak ada lagi suara lembut yang memanggil nama kita.
Tidak ada lagi doa yang diucapkan langsung dari bibir seorang ibu setiap kali kita hendak bepergian.
Rumah yang dulu terasa biasa saja, tiba-tiba menjadi sangat sunyi.
Kursi tempat ayah biasa duduk masih ada.
Mukena ibu masih tergantung.
Al-Qur’an yang biasa beliau baca masih terbuka.
Namun pemiliknya telah pergi untuk selama-lamanya.
Jamaah yang dirahmati Allah…
Banyak orang menangis ketika kehilangan harta.
Banyak orang bersedih ketika kehilangan jabatan.
Tetapi tidak ada kehilangan yang lebih menyakitkan daripada kehilangan orang tua.
Karena harta bisa dicari kembali.
Jabatan bisa diraih kembali.
Tetapi seorang ibu…
Seorang ayah…
Tidak akan pernah tergantikan sampai kapan pun.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua…”
(QS. Al-Isra’: 23)
Perhatikanlah…
Setelah Allah memerintahkan tauhid, Allah langsung memerintahkan berbakti kepada kedua orang tua.
Ini menunjukkan betapa agung kedudukan ayah dan ibu dalam Islam.
Tidak ada manusia yang lebih berjasa kepada kita setelah Allah selain kedua orang tua.
Merekalah yang rela kehilangan waktu tidurnya agar kita bisa tidur nyenyak.
Merekalah yang rela lapar agar anak-anaknya kenyang.
Merekalah yang diam-diam menangis ketika kita sakit, tetapi tersenyum di hadapan kita agar kita tidak takut.
Ayah mungkin tidak pandai mengucapkan kata “Aku sayang kepadamu.”
Tetapi setiap tetes keringatnya adalah kalimat cinta yang tidak pernah terucapkan.
Ibu mungkin tidak pernah meminta balasan.
Namun setiap sujudnya selalu menyebut nama anak-anaknya.
Mengangkat kedua tangannya sambil menangis memohon kepada Allah agar anaknya dijaga dan diberi keselamatan
Saudara-saudaraku…
Andai seorang anak mampu mengingat seluruh masa kecilnya, niscaya ia akan sadar bahwa hampir semua kebahagiaan yang ia rasakan dahulu dibangun di atas pengorbanan kedua orang tuanya.
Maka sungguh mengherankan apabila setelah dewasa, sebagian anak justru lebih mengenal jadwal teman-temannya daripada mengetahui keadaan ayah dan ibunya sendiri.
Renungkanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
“Dan Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.”
(QS. Luqman: 14)
Ayat ini mengajak kita melihat kembali perjalanan hidup yang mungkin telah kita lupakan.
Sembilan bulan seorang ibu mengandung dengan segala kesulitannya.
Tubuhnya berubah.
Tidurnya tidak nyenyak.
Punggungnya sering terasa sakit.
Langkahnya menjadi berat.
Napasnya sesak.
Namun di balik semua itu, tidak pernah ia mengeluh karena yang dipikirkannya hanyalah keselamatan anak yang dikandungnya.
Kemudian tibalah saat melahirkan.
Rasa sakit yang hampir tidak dapat dibayangkan oleh siapa pun.
Namun ketika tangisan bayi pertama kali terdengar, semua rasa sakit itu seakan terlupakan.
Bayi itu adalah kita.
Anak yang dahulu begitu dijaga, kini telah dewasa.
Tetapi sudahkah kita menjaga hati orang tua sebagaimana dahulu mereka menjaga kehidupan kita?
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka sebagaimana mereka telah mendidikku ketika kecil.'”
(QS. Al-Isra’: 24)
Perhatikanlah…
Allah tidak hanya memerintahkan kita memberi nafkah kepada orang tua.
Tidak hanya menyuruh berbicara lembut.
Allah memerintahkan kita merendahkan diri di hadapan mereka.
Betapa pun tingginya jabatan kita.
Betapa pun banyak gelar yang kita sandang.
Di hadapan ayah dan ibu, kita tetaplah seorang anak.
Jangan pernah merasa lebih hebat daripada mereka.
Jangan pernah meninggikan suara.
Jangan pernah memotong pembicaraan mereka.
Jangan pernah membuat hati mereka terluka hanya karena emosi sesaat.
Karena satu kalimat kasar yang keluar dari mulut kita, bisa menjadi luka yang mereka simpan hingga akhir hayat.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Ada sebuah kisah yang sangat masyhur dalam sejarah Islam. Kisah ini diriwayatkan dalam hadits sahih dan diceritakan oleh para ulama dari generasi ke generasi. Kisah seorang tabi’in yang namanya harum di langit meskipun tidak dikenal luas di bumi.
Namanya adalah Uwais al-Qarni.
Beliau hidup di Yaman. Seorang yang miskin, sederhana, dan tidak memiliki kedudukan di mata manusia. Namun di sisi Allah, ia memiliki kedudukan yang sangat tinggi.
Mengapa?
Karena baktinya kepada ibunya.
Uwais sangat ingin bertemu Rasulullah ﷺ. Kerinduan itu memenuhi hatinya. Akan tetapi, ibunya telah tua, lemah, dan tidak ada seorang pun yang merawatnya selain dirinya.
Akhirnya, Uwais memilih tinggal di sisi ibunya.
Ia mengorbankan keinginannya sendiri demi melayani ibunya.
Ia rela kehilangan kesempatan bertemu manusia termulia di muka bumi, demi tidak membuat ibunya merasa sendiri.
Ketika Rasulullah ﷺ menceritakan tentang Uwais kepada para sahabat, beliau bersabda bahwa jika mereka bertemu dengannya, hendaklah meminta agar Uwais mendoakan mereka. Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim.
Lihatlah, wahai kaum muslimin…
Bakti kepada orang tua telah mengangkat seorang lelaki sederhana menjadi manusia yang doanya diminta oleh para sahabat Nabi.
Ini menunjukkan bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak diukur dengan kekayaan, jabatan, atau popularitas, tetapi dengan ketakwaan dan bakti.
Diriwayatkan juga bahwa Abdullah bin Umar pernah melihat seorang laki-laki dari Yaman menggendong ibunya mengelilingi Ka’bah.
Sambil menggendong ibunya, ia berkata, “Wahai Ibnu Umar, menurutmu apakah aku telah membalas jasa ibuku?”
Ibnu Umar menjawab dengan jawaban yang membuat hati bergetar:
“Belum. Bahkan belum sebanding dengan satu kali rasa sakit ketika ibumu melahirkanmu.”
Subhanallah…
Betapa besar jasa seorang ibu.
Seandainya seorang anak menghabiskan seluruh hidupnya untuk melayani ibunya, ia tetap tidak akan mampu membalas seluruh pengorbanannya.
Dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, dari Abu Hurairah, disebutkan bahwa seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?”
Beliau menjawab,
“Ibumu.”
Ia bertanya lagi,
“Kemudian siapa?”
Beliau menjawab,
“Ibumu.”
Ia bertanya lagi,
“Kemudian siapa?”
Beliau menjawab,
“Ibumu.”
Barulah pada pertanyaan keempat Rasulullah ﷺ bersabda,
“Kemudian ayahmu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Mengapa ibu disebut sampai tiga kali?
Para ulama menjelaskan, karena ibu menanggung tiga pengorbanan besar yang tidak dialami ayah secara langsung: mengandung, melahirkan, dan menyusui.
Namun, ini bukan berarti mengurangi kemuliaan ayah.
Ayah adalah sosok yang sering menyembunyikan lelahnya.
Ia pulang dengan tubuh letih, tetapi tetap tersenyum agar anak-anaknya tidak ikut bersedih.
Ia mungkin tidak banyak berbicara.
Namun diamnya sering kali dipenuhi doa dan harapan untuk masa depan anak-anaknya.
Saudara-saudaraku…
Orang tua tidak pernah menghitung berapa kali mereka jatuh sakit demi menafkahi kita.
Namun mengapa sebagian anak mulai menghitung berapa rupiah yang harus dikeluarkan untuk membantu orang tuanya?
Orang tua tidak pernah merasa rugi membesarkan kita.
Mengapa kita merasa terbebani ketika diminta menemani mereka yang telah renta?
Ketika mereka mulai berjalan lambat…
Sesungguhnya dahulu merekalah yang sabar mengajari kita melangkah.
Ketika pendengaran mereka mulai berkurang…
Sesungguhnya dahulu merekalah yang paling peka mendengar tangisan kita.
Ketika ingatan mereka mulai melemah…
Sesungguhnya dahulu merekalah yang tidak pernah lupa memenuhi kebutuhan kita.
Maka jangan pernah merasa jenuh menghadapi usia senja mereka.
Karena masa tua mereka adalah kesempatan emas bagi kita untuk mengumpulkan pahala yang tidak tergantikan.
Boleh jadi, satu gelas air yang kita berikan dengan penuh kasih sayang kepada ibu yang telah renta lebih berat timbangannya di sisi Allah daripada amalan-amalan sunnah yang banyak tetapi tidak disertai bakti kepada orang tua.
Saudara-saudaraku…
Jangan pernah merasa bahwa orang tua membebani hidup kita.
Sesungguhnya dahulu kitalah yang menjadi beban mereka.
Namun mereka tidak pernah mengeluh.
Mereka tetap tersenyum.
Mereka tetap berjuang.
Mereka tetap berdoa.
Kini, mungkin rambut mereka mulai memutih, mungkin tubuh mereka mulai membungkuk, mungkin pendengaran mereka mulai berkurang, jangan biarkan mereka merasa sendirian.
Karena bisa jadi…
Hari ketika kita paling sibuk adalah hari terakhir mereka hidup di dunia.
Lalu setelah mereka tiada, kita memiliki banyak waktu untuk menangis.
Tetapi waktu itu tidak lagi mampu mengubah apa pun.
Setiap manusia pasti akan kehilangan.
Cepat atau lambat, hari itu akan datang.
Hari ketika telepon dari kampung bukan lagi membawa kabar gembira, melainkan berita yang membuat dada sesak.
“Ayah sudah dipanggil Allah…”
Atau…
“Ibu telah mengembuskan napas terakhir…”
Saat itu kita ingin berlari secepat mungkin.
Kita berharap itu hanya mimpi.
Kita berharap masih sempat mencium tangan mereka.
Namun takdir Allah tidak pernah terlambat dan tidak pernah pula dipercepat.
Ketika kita tiba, yang terlihat hanyalah wajah yang tenang.
Mulut yang dahulu memanggil nama kita telah terdiam.
Tangan yang dahulu mengusap kepala kita telah terbujur kaku.
Mata yang dahulu selalu menunggu kepulangan kita kini telah tertutup untuk selamanya.
Lalu kita menangis…
Tangisan yang mungkin tidak pernah kita keluarkan selama hidup.
Namun air mata pada hari itu tidak lagi dapat menghapus penyesalan.
Wahai kaum muslimin, bagi yang ayah atau ibunya telah lebih dahulu menghadap Allah, jangan berputus asa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Maka jangan pernah berhenti mendoakan kedua orang tua.
Setiap selesai shalat, sebutlah nama mereka.
Bersedekahlah atas nama mereka.
Sambunglah silaturahmi dengan sahabat-sahabat mereka.
Lunasilah utang mereka jika ada.
Penuhilah wasiat mereka yang sesuai syariat.
Semoga Allah menerima semua itu sebagai bakti yang terus mengalir kepada mereka.
Dan bagi yang kedua orang tuanya masih hidup…
Ingatlah… salah seorang ulama pernah berkata:
“Tidak ada air mata penyesalan yang lebih pahit daripada air mata seorang anak yang menangis di sisi kubur ibunya sambil berkata: ‘Seandainya aku bisa memelukmu sekali lagi.'”
Maka saudaraku, selama Allah masih memberi kesempatan, Jangan sia-siakan nikmat yang sangat besar itu. Jangan tunda untuk berbakti.
Jangan malu mengatakan kepada ayah dan ibu:
“Ayah… Ibu… Maafkan aku…
Aku sangat mencintai kalian.”
Sebab banyak anak yang setiap hari membawa bunga ke makam orang tuanya, tetapi ketika orang tuanya masih hidup, ia jarang membawa kebahagiaan ke rumah mereka.
Wahai kaum muslimin…
Hari itu pasti datang.
Jangan sampai kalimat:
“Kalau sudah tiada baru terasa”,
menjadi kisah hidup kita sendiri.
Jangan sampai kalimat itu menjadi jeritan penyesalan kita sendiri di kemudian hari.
Jangan menunggu mereka wafat untuk menyadari bahwa doa merekalah yang selama ini menjadi sebab Allah menjaga hidup kita.
Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya orang tua.
Sebab ketika mereka telah tiada, Setelah tanah menutup jasad mereka, seluruh harta dunia tidak akan mampu membeli satu detik saja untuk kembali memeluk mereka. Maka yang tersisa hanyalah doa dan penyesalan.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ