Oleh: Natalia Rumanti Hartono
Coba tengok kalender dinding di rumah kita. Dalam lingkaran satu tahun, kita melihat perayaan Imlek, Ramadan, Nyepi, hingga Paskah datang silih berganti, sering kali dalam waktu yang berdekatan. Di jalanan, di pasar, hingga di lini masa media sosial kita, ruang hidup di Indonesia adalah ruang perjumpaan yang sangat nyata.
Namun, sebagai seorang pendidik di MAN 9 JT, sebuah pertanyaan selalu mengusik kepala saya: Apakah kedekatan geografis ini otomatis membuat kita saling memahami? Belum tentu. Sering kali, toleransi yang kita bicarakan di ruang kelas hanya berakhir sebagai hafalan di lembar soal ujian, kering tanpa rasa.
Berangkat dari kegelisahan itulah, saya memutuskan untuk memutar kemudi dalam penelitian yang saya tuangkan dalam Jurnal Implementasi Moderasi Beragama melalui Model Pembelajaran Lintas Iman dalam Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila di MAN 9 Jakarta Timur. Saya tidak ingin murid-murid saya hanya membaca definisi “Moderasi Beragama” dari buku teks Pendidikan Pancasila. Saya ingin mereka mengalaminya langsung, merasakannya, dan mendiskusikannya dengan kepala dingin. Melalui pendekatan experiential learning (belajar dari pengalaman) yang dipadukan dengan pembelajaran berbasis proyek, saya mengajak mereka melihat lebih dekat realitas keberagaman di sekitar kita.
Kedewasaan Berpikir yang Tumbuh Lewat Perjumpaan
Ketika pertama kali rencana proyek ini digulirkan, muncul riak kekhawatiran yang wajar terkait batasan dalam proses belajar. Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah: Apakah kegiatan ini tidak akan mencampuradukkan keyakinan murid?
Sebagai guru, saya memasang benteng etis yang sangat tegas sejak awal. Saya katakan kepada murid-murid , “Kita hadir untuk mengamati dan memahami aspek sosial-kultural, bukan untuk mengikuti ritual keagamaan, apalagi mendebat isi keyakinan orang lain.” Fokus kami murni pada dimensi kemanusiaan dan ruang lingkup kebangsaan.
Kami membagi aktivitas menjadi beberapa rangkaian yang dekat dengan dunia anak muda masa kini. Murid-murid dibagi kelompok untuk melakukan observasi ke rumah ibadah agama lain, mewawancarai tokoh atau pemeluknya dengan pendekatan sosial-budaya yang santun, menonton film bertema hidup berdampingan, hingga membedah konten-konten bertema harmoni di media sosial mereka.
Saat melangkah ke lapangan, dinamika psikologis murid-murid sangat menarik untuk diamati. Beberapa murid bercerita kepada saya bahwa mereka sempat merasa canggung, bahkan diselimuti rasa was-was. Wajar saja, selama ini mereka hampir tidak pernah berinteraksi langsung secara mendalam dengan pemeluk agama berbeda.
Namun, suasana cair justru terjadi saat obrolan dimulai. Begitu mereka duduk bersama dan mendengarkan penjelasan pengelola rumah ibadah mengenai fungsi sosial tempat tersebut, kecanggungan itu memudar. Dalam sesi refleksi di kelas, seorang murid berkata kepada saya dengan mata berbinar, “Bu, ternyata di balik perbedaan caranya, setiap agama menjadi ruang pembinaan moral yang mengajarkan kebaikan dan kedamaian.” Jembatan pemahaman baru pun terbangun melalui sebuah perjumpaan langsung.
Belajar Mendengar dan Menjadi Kritis
Melalui proyek wawancara ini, saya menyaksikan murid-murid saya bertumbuh menjadi lebih dewasa. Mereka belajar menahan diri untuk tidak menghakimi. Mereka bisa memilah dengan sangat baik mana ranah keyakinan pribadi yang mutlak, dan mana ranah sosial-kebangsaan di mana kita semua harus saling topang sebagai warga negara. Saat presentasi kelompok, saya dibuat kagum karena cara mereka bertutur menjadi jauh lebih inklusif, objektif, dan bebas dari stereotip buruk.
Ketajaman berpikir ini juga terbawa hingga ke dunia digital mereka. Ketika kami bersama-sama membedah konten moderasi beragama di media sosial, mereka tidak lagi menjadi konsumen informasi yang pasif. Mereka menjadi lebih kritis, mampu mengendus mana konten yang tulus menyebarkan pesan damai dan mana konten provokatif yang sengaja memancing polarisasi.
Kokoh dalam Keyakinan, Anggun dalam Sikap
Satu pelajaran paling berharga yang saya petik dari refleksi murid-murid adalah sebuah kesimpulan bersama: menghormati tidak berarti mencampuradukkan ajaran agama, dan memahami perbedaan tidak akan membuat kita kehilangan identitas keimanan. Menariknya, momentum Ramadan kemarin menjadi ruang refleksi yang sangat menyentuh bagi kami di madrasah. Murid-murid menyadari secara mendalam bahwa menjaga ketenangan dan memberikan rasa aman bagi umat lain adalah wujud nyata dari akhlak luhur sekaligus implementasi dari nilai Pancasila. Identitas keagamaan mereka tidak menipis; ia justru semakin kokoh, berakar, dan berbuah menjadi sikap yang sejuk bagi lingkungan sekitarnya.
Bagi saya, proyek di MAN 9 Jakarta Timur ini memvalidasi satu hal: ceramah satu arah di depan kelas sudah tidak cukup untuk merawat tenun kebangsaan kita. Pancasila dan harmoni sosial baru akan benar-benar bernyawa ketika ia dijemput melalui pengalaman nyata.
Kini, ruang kelas kami bukan lagi sekadar tempat menghafal barisan teks normatif demi nilai di rapor. Ia telah menjelma menjadi sebuah ruang yang hangat, sebuah laboratorium kecil tempat merawat Indonesia dimulai dari keterbukaan hati dan kejernihan berpikir murid-murid saya.