[Izinkan Kami Berpuisi untuk Guru]
Oleh: Alpfin Fiscan Fedhea Ramadhan, S.Pd.

Guru,
yang katanya digugu dan ditiru.
Adalah segelintir manusia yang dihadang juang,
mencoba meretas batas,
menjadi pribadi yang pantas.

Guru,
yang semangatnya selalu seperti baru.
Adalah sosok penyambung asa,
penerang zaman,
pembangun nirmala dunia,
peramu keberhasilan.

Betapa tidak,
jutaan manusia ditengadah kebodohan,
ia datang berkorban,
mengabdi tanpa tanda jasa,
bahkan tak masuk ke dalam deretan nama-nama pahlawan,
namun dedikasinya seperti tiada sirna.

Pikirannya yang penuh,
raganya yang sayu,
keringatnya yang kuyup membasahi seluruh badannya, telah menjadi penanda,
ia berjuang sebisa dan semampunya.

Kasih dan sayangnya membekas tak terlupa,
senyumnya tetap ranum terjaga,
ilmunya yang datang tak pernah alpa,
telah meluruh; melebur,
dan menjadi pelengkap di dalam jasa-jasanya.

Kalau boleh,
izinkan kami melihat mereka setiap waktunya,
izinkan kami membalas segala juangnya meski tidak seberapa,
izinkan kami menjadi sosok yang selalu menjaga senyumnya untuk tetap ada.

Karena bagi kami,
guru adalah guru.
Manusia tanpa lelah,
nalurinya menggelora berkorban tanpa upah.

Karena bagi kami,
guru adalah guru.
Simbol perjuangan,
yang tugasnya hanya satu,
mencerdaskan anak-anak bangsa.

Hanya ini,
sedikit puisi untuk guru kami yang budiman,
sosok setia pencerah peradaban.

Jakarta, 25 November 2022

Related posts