Jakarta (Humas MAN 9) — Kamis, 25 Januari 2018, siswa MAN 9 Jakarta mendapatkan vaksinasi difteri ORI (Outbreak Response Immunization) dari Puskesmas Duren Sawit. Kegiatan imunisasi berlangsung pukul 09.00 sampai selesai. Seluruh siswa/i, kelas X, XI, dan XII mendapat vaksinasi ini. Pelaksanaan vaksinasi dilakukan bergilir per kelas. Dimulai dari kelas XII selanjutnya kelas XI dan terakhir kelas X. Sebelum mendapatkan vaksinasi, kondisi kesehatan siswa diperiksa terlebih dahulu, untuk memastikan siswa dalam kondisi fit atau tidak. Petugas Puskesmas juga memastikan siswa sudah sarapan atau mengkonsumsi makanan terlebih dahulu, baru selanjutnya siswa baru diberikan vaksinasi.

Respon siswa dalam kegiatan pemberian vaksinasi ORI sangat beragam. Sebagian siswa merespon positif kegiatan vaksinasi ini. Artinya bersedia diberikan vaksin. Menurut mereka, pemberian vaksin yang dilakukan Puskesmas ini sangat bermanfaat bagi siswa dalam upaya mencegah dan menanggulangi penularan penyakit difteri. Namun ada juga sebagian siswa yang kurang merespon kegiatan pemberian vaksin tersebut. Mereka tidak mengikuti kegiatan dalam pemberian vaksinasi dikarenakan beberapa faktor, seperti, sudah diberikan imunisasi difteri sebelumnya atau tidak diizinkan orang tua. Selain itu ada juga beberapa respon siswa yg bersedia diberikan vaksinasi namun dengan ekspresi yang beragam, seperti merasa takut dan menangis pada saat sedang diberikan vaksin.

Outbreak Response Imunization Difteri (ORI Difteri) adalah suatu kegiatan imunisasi secara masal sebagai upaya untuk memutuskan transmisi penularan penyakit difteri pada anak usia 1 tahun sampai dengan <19 tahun yang tinggal di daerah KLB tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya. Penyakit difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diptheriae  dapat menyebabkan komplikasi yang serius, seperti sumbatan saluran nafas serta peradangan pada otot jantung bahkan kematian. Penyakit difteri memiliki gejala: demam 38℃, sakit menelan, selaput putih keabu-abuan di tenggorok,  leher membengkak dan sesak nafas disertai suara mengorok. Selain itu bakteri Corynebacterium diptheriae akan mengeluarkan racun difteri yang bisa membuat peradangan otot jantung dan akhirnya akan menyebabkan kematian. Pengobatan untuk penyakit difteri yaitu rawat inap di ruangan isolasi, pemberian antibiotik dan jika perlu diberikan anti racun difteri atau Anti Difteri Serum (ADS).

Penyakit difteri  dapat dicegah. Imunisasi dengan vaksin DPT-Hib-HB/DT/Td adalah pencegahan terbaik untuk penyakit Difteri. Outbreak Response Imunization Difteri atau ORI Difteri diberikan untuk semua anak usia 1 tahun sampai dengan usia kurang dari 19 tahun. ORI akan dilaksanakan sebanyak 3 putaran, dengan interval  0-1-6 bulan. ORI akan memberikan vaksin dengan ketentuan sbb:

*DPT-HB-Hib:  usia 1 thn -<5 thn*

*DT:  usia 5 thn -<7 thn*

*Td: usia 7 tahun <19 thn*

Sasaran ORI di DKI Jakarta sebanyak 2.975.020 anak.

Ibu Murni Setiyasih sebagai pembina PMR/UKS menyampaikan pandangannya bahwa kegiatan pelaksanaan vaksinasi ORI yang dilakukan Puskesmas Duren Sawit untuk siswa MAN 9 sangatlah bermanfaat sebagai upaya menanggulangi penularan difteri dan menurunkan jumlah kasus difteri dan mencegah agar penyakit difteri tersebut tidak semakin meluas. Dengan dilaksanakan kegiatan pemberian vaksinasi ini seluruh siswa dan semua warga MAN 9 dapat mencegah kasus difteri agar tidak semakin meluas dan memutuskan penularan difteri, mulai dari lingkungan sekolah MAN 9. Selain dengan pemberian imunisasi, memelihara dan menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan sekolah, menjaga pola hidup sehat dan pola makan bagi setiap individu mutlak diperlukan. (MS-TLSA ed.)

Related posts